Ma’rifatullah Sebagai Sarana Kebahagiaan Yang Haqiqi

Bagian Pembinaan Putri (15/03/2022) Hal mendasar dari perilaku manusia, yaitu adanya instink alami mereka untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Pemenuhan ini mendatangkan ketenangan dan bahagia. Tapi sebaliknya jika kebutuhan tadi tidak terpenuhi maka alarm akan menyala pertanda tubuh, pikiran atau perasaan mengalami gangguan. Alarm berupa rasa lelah, mudah mengantuk, bosan, mudah marah, lemas dll adalah pertanda bahwa sedang ada gangguan dalam proses pemenuhan kebutuhan. Inilah sifat alami manusia.

Persoalan semakin rumit saat banyak orang mengira bahwa “sebab” bahagia adalah kenyamanan, uang, fasilitas, materi kebendaan, kesenangan dsb. Mulailah manusia mencari kebahagiaan keluar dan bukan membangunnya dari dalam .

Maka meraih bahagia ini merupakan muara semua permasalahan, jika manusia tidak kunjung memahami bahwa “bahagia sesungguhnya bergantung pada pemaknaan “. Kebahagiaan bukan soal seberapa banyak yang dipunyai atau seberapa banyak keinginan-keinginan yang terpenuhi, melainkan bergantung pada pemaknaan …bagaimana cara memahami dan menyikapi kehidupan dengan benar.

Pemahaman yang sahih adalah langkah awal untuk menyikapi persoalan, keluar dari kerumitannya. Dan karenanya, pekerjaan besar manusia dalam mengarungi hidup adalah menata paham agar bisa meraih bahagia.

“Setiap manusia tentu berharap keadaan yang lebih baik. Berawal dari menenangkan diri, membuang ‘sampah’ emosi dan melakukan pemaknaan yang benar tentang segala sesuatu …insyaaAllah seiring waktu akan datang perbaikan-perbaikan.”. (HNM)

Begitu pun dalam mendidik para generasi muda yang menjadi tonggak peradaban di masa mendatang tentu banyak ditemui masalah dan persoalan yang kerap mengganggu pikiran hingga tidak sedikit membuat hari-hari merasa tidak nyaman.

Untuk menuju pendidikan yang berhasil dibutuhkan saling menerima satu dan lainnya. Namun, dalam memutuskan hal ini, Qolbu yang menjadi penentu sebuah keputusan selalu dihadapkan oleh pertentangan yang saling bersahutan yakni akal dan hawa nafsunya. Maka dengan demikian dibutuhkan latihan bagaimana agar akal lebih dominan dalam setiap mengambil keputusan.

Proses latihan ini dimulai dari diri sendiri dengan langkah mengenal diri, bagaimana akal dan hawa nafsu digunakan selama ini. Sehingga akan tumbuh kemampuan mengenal Rabb, Sang Maha Kholik. Saat kemampuan itu tersemai, bisa dipastikan setiap persoalan berorientasi pada-Nya. (PI)

Leave Your Comment Here